Friday, May 17, 2019

Pantai Dadapan, Paranggupito, Wonogiri

Pantai Dadapan, Paranggupito, Wonogiri
Tugu Perbatasan di Pantai Dadapan

Pantai Dadapan berada di Desa Paranggupito, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Pantai ini berada di perbatasan antara Kabupaten Wonogiri (Provinsi Jawa Tengah) dengan Kabupaten Gunung Kidul (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta).

Tanda perbatasan antarprovinsi itu berupa sebuah tugu kecil, yang ada di sisi barat pantai. Saat air surut, kita bisa memanjat batu karang dan berfoto di dekat tugu perbatasan tersebut.

Pantai ini tidak terlalu luas, namun dihiasi pasir putih dan bebatuan karang di kanan dan kirinya. Suasananya masih sepi karena belum banyak dikunjungi wisatawan. Terkadang kita akan menjumpai warga setempat yang menjaring ikan atau mencari umpan lobster.

Kalau penasaran, silahkan lihat video ini :  Video Pantai Dadapan

Bagai mana jalur menuju Pantai Dadapan?

Kalau dari Wonogiri Kota, kita bisa berkendara ke arah selatan sekitar 60 kilometer menuju ke Kecamatan Paranggupito. Sesampainya di pertigaan Kecamatan Paranggupito, belok ke kanan (selatan) sekitar 5 kilometer sampai ke Pantai Sembukan.

Setelah melewati gapura/loket retribusi Pantai Sembukan, belok ke kanan (barat) sekitar 1 kilometer. Kita akan melewati Pantai Klotok terlebih dahulu, sebelum tiba di Pantai Dadapan.

Sepeda motor belum bisa mencapai pantai. Sepeda motor diparkir di tepi jalan cor. Selanjutnya, pengunjung harus berjalan kaki sekitar 300 meter ke Pantai Dadapan. Jangan sungkan bertanya kepada warga. Biar tidak kesasar... Hehe.

Monday, May 13, 2019

Pantai Waru, Paranggupito, Wonogiri

Pantai Waru, Paranggupito, Wonogiri

Pantai Waru berada di Dusun Dringo, Desa Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Pantai ini berada di sebelah barat Pantai Nampu dan di sebelah timur Pantai Karangpayung.

Pantai ini dulunya pernah diproyeksikan menjadi pelabuhan. Sebuah dermaga berikut akses jalannya telah dibangun hingga tepi pantai. Tetapi, sampai sekarang pelabuhan itu belum terwujud.

Salah satu kendalanya adalah kondisi pantai yang dipenuhi bebatuan karang, sehingga membahayakan perahu jika lambungnya membentur bebatuan karang tersebut.

Namun, pantai ini tetap menyimpan keunikannya. Bebatuan karang yang mengapit di sisi kanan dan kiri pantai menciptakan eksotisme tersendiri. Sebuah sungai kecil mengalir dari sumber Waru yang berada beberapa ratus meter dari pantai, lalu bermuara di bibir Pantai Waru. 

Kalau penasaran, silahkan lihat videonya ini Video Pantai Waru Paranggupito

Para pengunjung bisa berkendara sepeda motor atau mobil langsung hingga ke ujung dermaga. Pengunjung yang hendak ke Pantai Karangpayung juga bisa memarkirkan kendaraannya di Pantai Waru ini, kemudian berjalan kaki ke arah barat menuju ke Pantai Karangpayung. Jangan sungkan bertanya kepada warga kalau mau ke pantai, biar tidak kesasar, Warganya ramah2...

Monday, May 6, 2019

Pantai Karangpayung, Paranggupito, Wonogiri


Pantai Karang Payung, Paranggupito, Wonogiri

Pantai Karangpayung, Paranggupito, Wonogiri


Kabupaten Wonogiri ternyata mempunyai sebuah pantai yang unik dan menarik. Pantainya bisa dibilang masih perawan karena belum banyak orang yang mengunjunginya. Pantainya sangat indah, dihiasi pasir putih dan bebatuan karang. Keren pokoknya.

Kalau penasaran, silahkan lihat videonya ini : Video Pantai Karangpayung

Namanya Pantai Karang Payung.
Lokasinya di Dusun Dringo, Desa Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Keistimewaan pantai ini, ada sebidang tebing karang yang sangat tinggi dan tegak lurus. Tingginya sekitar 30-40 meter. Bagian bawah tebing karang itu agak berongga, sehingga bisa dipakai untuk berteduh. Makanya, pantai ini dinamakan Pantai Karangpayung karena bentuk tebing karangnya menyerupai payung atau layar.

Jalur menuju Pantai Karangpayung masih berupa jalan setapak. Sepeda motor atau mobil hanya bisa diparkir di Pantai Waru (Dari pos penarikan tiket Pantai Nampu, belok ke barat (kanan) sekitar 500 meter). Selanjutnya, kita berjalan kaki dari Pantai Waru ke arah barat sepanjang lebih dari setengah kilometer. Kalau siang hari banyak warga yang bertani atau mencari daun pandan, jadi bisa tanya-tanya biar tidak kesasar.


Saturday, May 4, 2019

Perahu Penyeberangan Baturetno - Eromoko



Waduk Gajahmungkur di Kabupaten Wonogiri dibangun sekitar 1978 - 1981 silam. Sebelum waduk dibangun, ada jalan sekitar 2 kilometer yang menghubungkan antara Kecamatan Eromoko dan Kecamatan Baturetno.

Namun, setelah waduk dibangun, jalan tersebut terendam air. Hanya ketika musim kemarau mencapai puncaknya, waduk di jalur Eromoko - Baturetno mengering sehingga bisa dilewati sepeda motor.

Tetapi ketika musim hujan mencapai puncaknya, jalur tersebut kembali tergenang air, alhasil masyarakat hanya bisa melewatinya dengan perahu.

Lihat video :
Video Perahu Eromoko Baturetno

Ada satu perahu yang melayani penyeberangan dari Desa Tegalharjo (Kecamatan Eromoko) - Desa Glesungrejo (Kecamatan Baturetno). Perahu itu sekarang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Glesungrejo.

Waktu tempuh perahu dari Tegalharjo - Glesungrejo sekitar 15 menit.
Tarif perahu hanya Rp 5.000 untuk satu orang penumpang beserta satu sepeda motor.
Kalau berboncengan dua orang, tarifnya ditambah Rp 2.000, sehingga jumlahnya jadi Rp 7.000.

(Mei 2019)

Lihat video saat kering : Video Jalur Eromoko - Baturetno saat Mengering


Sunday, March 19, 2017

GUA BARU DITEMUKAN DI PARANGGUPITO


Gua Reso, Desa Ketos, Paranggupito, Wonogiri
 Kawasan Karst Kabupaten Wonogiri memang menyimpan banyak misteri di bawah lapisan tanahnya. Salah satunya ditemukan oleh Dusun Sambi RT1 RW5 Desa Ketos, Kecamatan Paranggupito. Pada awal Maret 2017 ini mereka menemukan sebuah gua baru di pekarangan tanah warga.

Mendengar kabar itu, saya bergegas meluncur karena penasaran. Kecamatan Paranggupito merupakan wilayah Kabupaten Wonogiri yang paling selatan. Jarak dari pusat kabupaten sekitar 60-70 kilometer.

Tonton videonya : Gua Baru Ditemukan di Paranggupito

Lokasi gua baru itu sendiri sebenarnya tidak sulit ditemukan. Sebab, letaknya hanya berkisar 100 meter dari belakang Pasar Paranggupito. Setelah turun dari sepeda motor, saya cukup berjalan kaki sekitar 10 meter menaiki bukit.dan sudah sampai di mulut gua. Gua itu dinamai Gua Reso karena berada di tanah milik almarhum Pak Reso.
 
Gua Reso, Desa Ketos, Paranggupito, Wonogiri
 Di dampingi warga sekitar, kami memasuki gua. Kami harus menggunakan tangga karena kedalaman gua mencapai lima meter. Harus sedikit merangkak kalau mau masuk lebih dalam. Tapi, setelah sampai di dalam, ada sebuah ruang yang agak lebar. Di dalamnya dihiasi banyak stalaktit dan stalagmit yang masih alami. Akhirnya, rasa penasaran saya pun terobati....hehe.

Menurut masyarakat setempat, gua itu bisa lebih dalam dari pada yang kami jangkau saat ini. Beberapa lorongnya diyakini mampu menembus sisi lain bukit  tersebut. Bahkan, mereka yakin gua itu terhubung dengan luweng atau sungai bawah tanah. Wow, keren kan....

Monday, March 6, 2017

POHON KONCANGAN RAKSASA DI HUTAN MUNCAR WONOGIRI


Pohon koncangan raksasa di Hutan Candi Muncar, Bubakan, Girimarto, Wonogiri

Berekreasi di Waduk Candi Muncar, Desa Bubakan, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri terasa kurang lengkap jika belum menjelajahi Hutan Muncar. Waduk yang baru dihidupkan warga bulan Februari lalu itu dikelilingi lembah, perbukitan dan rimba belantara.

Hutan Candi Muncar berada di sebelah timur waduk tersebut. Hutan lindung milik Perhutani di lereng selatan Gunung Lawu itu menyimpan berbagai vegetasi yang unik dan menarik.

Pak Sarno yang jadi pemandu Waduk Candi Muncar mengatakan, Hutan Candi Muncar menyajikan vegetasi atau pepohonan unik yang sangat jarang ditemui di perkotaan.

Pohon koncangan raksasa di Hutan Candi Muncar, Bubakan, Girimarto, Wonogiri

 Salah satunya adalah pohon koncangan berukuran raksasa. Tingginya ditaksir sekitar 40 meter, sedangkan lebarnya lebih dari dua meter. Umurnya kira-kira sudah setengah abad.... Wow...

Tonton videonya :  Pohon Raksasa Berusia Setengah Abad di Wonogiri

Pangkal pohon bagian bawah semakin terlihat sangar karena batangnya berkerut-kerut dan akar-akarnya meliuk-liuk. Saking besarnya, rentangan tangan lima orang dewasa belum tentu mampu mengelilingi pohon tersebut.

Baca juga : Sejarah Waduk Candi Muncar Wonogiri

Tidak hanya satu pohon, di tempat itu terdapat banyak pohon koncangan berukuran raksasa. Bahkan ada dua pohon koncangan yang hidup berdekatan, sehingga tudung atau kanopi pohonnya terlihat menyatu.
Keren kaaannnn.....
Tetap lestarikan alam dan hutan ya...

SEJARAH WADUK CANDI MUNCAR WONOGIRI



Naik rakit di Waduk Candi Muncar, Bubakan, Girimarto, Kabupaten Wonogiri
WADUK CANDI MUNCAR telah menjadi tempat rekreasi baru di Desa Bubakan, Kecamatan Girmarto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Warga setempat berhasil mewujudkan obyek wisata berkat kegigihannya menghidupkan kembali waduk tersebut.

Lalu bagai mana sejarah berdirinya WADUK CANDI MUNCAR? Begini ceritanya gaeesss.....
Pada suatu hari....
Pemerintah dan masyarakat ingin membuat bendungan untuk menyediakan irigasi. Setelah mencari-cari, akhirnya mereka menemukan satu tempat yang cocok untuk membangun bendungan, yakni di lembah Candi Muncar, Desa Bubakan, Kecamatan Girimarto.

Singkat kata, pemerintah kemudian mulai membangun bendungan pada tanggal 15 Mei 1976. Nama proyeknya adalah Pembangunan Wadukan Candi Muncar Girimarto. Pembangunannya selesai setahun kemudian, tepatnya tanggal 31 Maret 1977.

Waduk Muncar kemudian diresmikan oleh Bupati Wonogiri saat itu, KRMH Soemoharmoyo. tanggal 8 Agustus 1977. Prasasti peresmian WADUK CANDI MUNCAR masih bisa dilihat di bagian selatan badan bendungan.

Prasasti peresmian Waduk candi Muncar, Bubakan, Girmarto, Kabupaten Wonogiri

Menurut Pak Sarno yang jadi pemandu wisata, WADUK CANDI MUNCAR menempati tanah desa seluas 1,1 hektare. Waduk itu pada awalnya bisa menyuplai air irigasi sepanjang enam kilometer sampai ke Dusun Setalang.dan Ngrongga.

Tetapi beberapa tahun lalu terjadi tanah longsor di hulu sungai. Akibatnya, longsoran tanah hanyut dan mengendap di waduk. Endapan tanah semakin tinggi dan menutupi seluruh permukaan waduk, sehingga waduk tidak bisa berfungsi.

Pada bulan November 2016, warga mulai membersihkan endapan di waduk. Hanya menggunakan cangkul, mereka membuat parit-parit kecil agar tanah mudah dialirkan ke luar waduk.

Lihat videonya : Asyik... Naik Getek di Waduk Candi Muncar

Pada bulan  Februari 2017, mereka berhasil menghidupkan kembali WADUK CANDI MUNCAR. Waduk kembali terisi air sehingga menyerupai telaga yang jernih kemudian diisi ikan nila.

Baca juga : Pohon Koncangan Raksasa di Hutan Muncar
 
WADUK CANDI MUNCAR kini lebih diarahkan sebagai tempat rekreasi alam yang keren. Pengunjung bisa berakit-rakit ke hulu, eh... keliling waduk aja ya... hehe.
Yang penting tetap hati-hati lho gaeesss.... Coz kedalaman airnya mencapai enam meter lebih.

Jati-jati Raksasa di Cagar Alam Donoloyo Wonogiri

Pohon Jati di Cagar Alam Donoloyo Wonogiri Pohon Jati Berlubang di Cagar Alam Donoloyo Wonogiri Cagar Alam Donoloyo di Desa Watusomo, Keca...

BERITA TERPOPULER