Saturday, March 20, 2021

Air Terjun Watu Jadah Jatipurno, Wonogiri

Air terjun Watu Jadah Girimulyo Jatipurno Wonogiri

Air terjun Watu Jadah Jatipurno Wonogiri

Air terjun Watu Jadah merupakan salah satu air terjun yang unik. Tingginya sekitar 30 meter dan dikelilingi hutan yang masih asri. 

Yang membuat unik adalah bebatuan di sekitar air terjun berbentuk balok-balok persegi yang tersusun rapi, sehingga mirip jadah (makanan tradisional dari ketan). Karena itulah dinamakan air tejun Watu Jadah.

Air terjun Watu Jadah baru diketahui publik secara luas sekitar tahun 2012 lalu. Lokasinya berada pada tanah milik Perhutani di wilayah Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Plarar, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lawu Selatan.

Sekitar tahun 2012-2013, warga setempat bekerja bakti membuka jalan menuju air terjun. Jalan beton saat itu dibangun sepanjang 600 meter, sedangkan jalan makadam dibuat sekitar 800 meter. Meski demikian, pengunjung tetap harus berjalan kaki sekitar 200 meter hingga sampai ke kaki air terjun.

Baca juga : Air Terjun Jurug Kemukus Bertingkat Tiga

Rute menuju air terjun Watu Jadah.

Kita bisa memulai rutenya dari Wonogiri kota ke arah timur sekitar 24 kilometer sampai ke Kecamatan Jatipurno. Dari Kecamatan Jatipurno ke arah utara sekitar 4 kilometer sampai Desa Girimulyo. Dari Desa Girimulyo ke arah utara lagi sekitar 3 kilometer sampai di jalan masuk menuju air terjun.

Sepeda motor hanya bisa sampai di ujung jalan makadam. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri sungai sekitar 200 meter. Sampai di kaki air terjun Watu Jadah.

Tuesday, March 16, 2021

Sungai Bengawan Solo Purba, Menyimpan Jejak 4 Juta Tahun

 

Sungai Bengawan Solo Purba, Wonogiri-Gunung Kidul

Sungai Bengawan Solo Purba

Bengawan Solo dikenal sebagai sungai terpanjang di Pulau Jawa Berhulu di Pegunungan Seribu (Gunung Sewu) Kabupaten Wonogiri dan bermuara di Laut Jawa atau tepatnya di Kabupaten Gresik, Jatim.

Tahukah anda, Sungai Bengawan Solo awalnya ternyata tidak mengalir ke utara seperti sekarang. Tapi mengalir ke selatan dan bermuara di Samudera Hindia. Hal itu terjadi pada zaman pleistosen atau lebih dari 4 juta tahun silam.

Setelah zaman pleistosen berlalu, terjadi pengangkatan lempeng benua yang mengakibatkan naiknya daratan di Pulau Jawa bagian selatan. Akibatnya, Sungai Bengawan Solo yang semula mengalir ke selatan, berbalik arah menjadi mengalir ke utara seperti sekarang ini.

Bekas sungai Bengawan Solo kini mengering, namun masih meninggalkan lekuk-lekuk sungai yang terlihat jelas sampai sekarang. Bekas Bengawan Solo yang sudah mengering itu kini disebut Sungai Bengawan Solo Purba.

Baca juga : Banyutowo Paranggupito, Wonogiri

Beberapa tebing Sungai Bengawan Solo Purba mempunyai pola undak-undakan yang menandakan, bahwa dahulu pernah terdapat aliran sungai, sekitar zaman kuarter atau pleistosen.

Sekeliling Sungai Bengawan Solo banyak ditemukan artefak, fosil hewan dan kerang-kerangan. Fosil hewan dan kerang-kerangan diduga merupakan sisa makanan manusia prasejarah. Hal itu menjadi bukti adanya perairan dan peradaban purba. 

Sungai Bengawan Solo Purba Jadi Perkampungan

Panjang Sungai Bengawan Solo Purba berkisar 20,5 kilometer. Hulunya di wilayah Kecamatan Giritontro (Kabupaten Wonogiri) dan muaranya di Pantai Sadeng, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul (Yogyakarta). Sungai Bengawan Solo Purba sekarang dimasukkan sebagai salah satu geosite Geopark Gunung Sewu.

Sungai Bengawan Solo Purba yang telah mengering kini menjadi perkampungan, tegalan dan persawahan. Beberapa dusun yang berada di sekitar Sungai Bengawan Solo Purba, antara lain Dusun Tileng, Bakagung, Mendak, dan Bakalan di Desa Gambirmanis, serta Dusun Ngaluran di Desa Sumberagung, Kecamatan Pracimantoro.

Monday, March 15, 2021

Pantai Waru Paranggupito Wonogiri, Menyimpan Sumber Air Bersih

Pantai Waru Paranggupito

 

Pantai Waru Paranggupito Wonogiri

Pantai Waru menjadi salah satu pantai yang unik. Pantai yang terletak di Dusun Dringo, Desa Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri itu mempunyai sumber air bersih yang muncul dari dalam tanah. Sumber air itu menjadi andalan masyarakat sekitar untuk memenuh kebutuhan sehari-hari ketika kekeringan selama musim kemarau. 

Sumber air Waru berada sekitar 300 meter dari bibir Pantai Waru. Airnya muncul dari sebuah rongga atau gua di sisi bukit. Dari mulut gua itu, airnya mengalir kemudian bermuara di Pantai Waru. 

Masyarakat setempat dan PDAM Kabupaten Wonogiri memanfaatkan sumber air Waru untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebuah bak penampungan air telah dibangun beberapa meter dari sumber air. Dari bak penampungan itu, airnya dialirkan ke permukiman penduduk. Ada pula truk-truk tangki milik swasta yang menyedot sumber air Waru untuk kemudian dijual ke masyarakat. 

 


Jalan menuju Pantai Waru sudah berupa jalan cor. Sepertinya, pantai tersebut pernah diproyeksikan menjadi pelabuhan. Namun, kondisi pantai yang dipenuhi batu karang dan tebing yang terjal kurang cocok untuk dijadikan pelabuhan. 

Pemandangan pantainya cukup menarik dihiasi tebing-tebing karang terjal. Sebelah timur Pantai Waru adalah Pantai Nampu yang telah populer. Sedangkan sebelah barat Pantai Waru adalah Pantai Karangpayung yang masih sepi, tapi sangat indah dan eksotis. 

Baca juga : Pantai Nampu Paranggupito, Wonogiri

Rute menuju Pantai 

Waru Kita dapat memulai rute dari Wonogiri kota ke arah selatan sekitar 60-70 kilometer sampai perempatan Kecamatan Paranggupito. Dari perempatan Kecamatan Paranggupito, ambil jalan ke arah timur sekitar 10 kilometer sampai di Dusun Dringo, Desa Gunturharjo. 

Ketika melewati pos penjagaan Dusun Dringo atau sebelum memasuki Pantai Nampu, ada jalan cor ke kanan. Kita ambil jalan cor itu ke arah barat sekitar 300 meter melewati Sumber Air Waru. Kemudian lanjut lagi sekitar 300 meter sampai di tepi Pantai Waru. Jangan sungkan bertanya pada penduduk biar tidak kesasar ya....

Sunday, March 14, 2021

Sejarah Waduk Tandon Krisak

Waduk Tandon Krisak


Waduk Tandon Krisak Wonogiri

Waduk Tandon Krisak berada di Desa Pare, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Sebenarnya, kata "tandon" hampir sama artinya dengan kata "waduk". Sehingga terkadang orang menyebutnya Waduk Tandon atau Waduk Krisak atau Tandon Krisak.

Waduk ini dibangun sekitar tahun 1942 atau pada akhir masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda dan memasuki era penjajahan Jepang. Sebelum dibangun, area waduk itu dahulu merupakan permukiman yang terdiri atas dua dusun di Desa Pare. 

Baca juga : Sejarah Waduk Kedung Uling Eromoko, Wonogiri

Ketika waduk dibangun, warga setempat kemudian pindah ke daerah sekitar yang tidak digenangi air. Bekas perkampungan itu bisa terlihat ketika kemarau tiba dan waduk surut. Beberapa bekas sumur terlihat di dasar waduk yang mengering.

Waduk Tandon Krisak pernah viral ketika kemarau tiba sekitar Agustus 2020 lalu. Karena airnya surut, dasar waduk berubah menjadi padang rumput yang luas. Masyarakat berbondong-bondong mendatangi waduk untuk menyaksikan fenomena yang indah itu. 

Waduk Tandon Krisak jadi Padang Rumput

Waduk Tandon Krisak dibangun dengan luas 3,5 kilometer persegi dan dirancang mampu menampung volume air sebesar 3.152.000 m3. Waduk tersebut digunakan untuk menyuplai irigasi bagi 874 hektare sawah di wilayah Kecamatan Selogiri.


Saturday, March 13, 2021

Pantai Kalimirah, Si Cantik yang Pernah Digadang-gadang Jadi Pelabuhan

Pantai Kalimirah Paranggupito

Pantai pasir putih cantik dan dihiasi bebatuan karang yang eksotis menambah pesona pantai itu. Lokasinya masih tersembunyi di balik perbukitan karst, sehingga belum banyak pengunjung yang menjamahnya. Itulah Pantai Kalimirah lokasinya di Dusun Dawung, Desa Gudangharjo, Kecamatan Paranggupito, Wonogiri.

Pantai Kalimirah Paranggupito Wonogiri 

Rute menuju Pantai Kalimirah

Pantai itu bisa ditempuh dengan berkendara dari Wonogiri kota ke selatan sekitar 60-70 kilometer. Sesampainya di pusat kota Kecamatan Paranggupito, perjalanan dilanjutkan ke arah timur sekitar 7 kilometer. Ketika sampai di ujung jalan Dusun Dawung, kita harus turun dari kendaraan.

Selanjutnya, kita harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak. Jalan setapak itu melintasi beberapa bukit karst yang didominasi batuan kapur. Bukit-bukit yang timbul karena terangkatnya lempeng bumi jutaan tahun silam itu menjadi keunikan tersendiri yang dapat dinikmati di sepanjang perjalanan.

Setelah berjalan kaki sekitar setengah kilometer, sebuah pantai terlihat mengintip dari balik bukit. Pasir putih dan batu-batu karang besar seakan menyambut. Gelombang laut selatan berulang kali berdebur menghantam barisan karang yang paling depan. Namun, suasanya masih sepi, hampir tidak ada pengunjung lain yang menyambangi. 

Baca juga : Pantai-pantai Paling Keren di Wonogiri

Pantai Kalimirah konon pernah diproyeksikan menjadi Pelabuhan Samudera. Pelabuhan itu akan menjadi salah satu infrastruktur pendukung industri di wilayah selatan Pulau Jawa. Di mana, kapal-kapal besar bisa berlabuh di pantai tersebut. 

Panjang garis Pantai Kalimirah sekitar 500 meter. Jarak 50 meter dari bibir pantai, kedalaman lautnya sudah mencapai 30 meter. Kondisi itu memungkinkan kapal berukuran besar untuk memasuki perairan pantai.

Thursday, March 11, 2021

Sejarah Waduk Kedung Uling Eromoko, Wonogiri

Waduk Kedung Uling Eromoko

 

Waduk Kedunguling Eromoko

Waduk Kedung Uling merupakan salah satu waduk tertua di Kabupaten Wonogiri. Waduk tersebut dibangun sejak tahun 1917, pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Dengan demikian, waduk yang berada di Desa Ngunggahan, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri itu sudah berusia lebih dari 100 tahun atau lebih dari seabad.

Sejarah berdirinya Waduk Kedunguling diwarnai dengan beberapa cerita rakyat yang dituturkan turun temurun. Zaman dahulu, sebelum waduk Kedung Uling berdiri, pernah ada seorang raja yang menyambangi desa tersebut. Saat itu, peniti sang Raja jatuh, kemudian ditemukan oleh penduduk setempat. Penduduk yang menemukannya lalu mengembalikan peniti itu kepada Raja.

Karena terkesan dengan kejujuran warga, sang Raja kemudian menawarkan imbalan kepada warga tersebut. Namun, warga menolak diberi imbalan. Mereka hanya meminta Raja mendoakan agar anak-cucunya kelak menjadi orang sukses. Sang Raja pun bersedia mendoakan, dan salah satu yang terkabul adalah dibangunnya Waduk Kedung Uling.

Waduk Kedung Uling dibangun dengan membendung Sungai Jatirejo dan Sungai Tempuran. Luasnya 3,75 km2 dan dirancang mampu menampung air dengan volume 479.000 m3. Waduk itu juga dirancang mampu menyuplai irigasi untuk 87 hektare sawah.

Baca juga : Sejarah Waduk Cengklik Boyolali

Selama lebih dari satu abad, Waduk Kedung Uling menyuplai irigasi untuk ratusan hektare sawah di beberapa desa/kelurahan Sumberejo dan Mojopuro, Kecamatan Wuryantoro. Beberapa tahun lalu, Waduk Kedung Uling sempat mengalami kerusakan, pemerintah kemudian berupaya memperbaiki waduk agar dapat berfungsi kembali.


Sejarah Waduk Cengklik Boyolali


Waduk Cengklik Boyolali




Waduk Cengklik Boyolali



Waduk Cengklik berada di Desa Margorejo, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. Waduk Cengklik merupakan salah satu bendungan tua di Indonesia. Usianya sekarang sudah hampir satu abad.

Waduk Cengklik dibangun di era pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pembangunannya dimulai tahun 1923 dan selesai sekitar tahun 1931. 

Pembangunan Waduk Cengklik dilatarbelakangi perkembangan kota Solo dan sekitarnya yang kian  padat.  Oleh karena itu, pemerintah Hindia Belanda memandang perlu dibangunnya sebuah waduk untuk menyuplai irigasi, demi menjamin ketersediaan pangan bagi populasi masyarakat Solo dan sekitarnya yang semakin meningkat. 

Keberadaan Pabrik Gula Colomadu yang dikelola oleh Pura Mangkunegaran saat itu juga menjadi alasan lain dibangunnya Waduk Cengklik. Bisnis gula yang memberikan keuntungan besar di masa itu  memerlukan dukungan irigasi untuk mengairi kebun-kebun tebu, agar pasokan tebu ke pabrik gula tetap terjaga. 

Baca juga : Sejarah Waduk Candi Muncar Wonogiri

Bendungan Waduk Cengklik kemudian dibangun dengan panjang 1.693 meter dan tinggi sekitar 14,5 meter. Waduk Cengklik dirancang mampu menampung volume air maksimal sebesar 11,08 juta m3. Waduk tersebut dapat mengairi sawah seluas 1.578 hektare di wilayah sekitarnya. Waduk Cengklik kini dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum Sumberdaya Air dan Tata Ruang (Pusdataru) Provinsi Jateng. 


Irigasi Waduk Cengklik Boyolali

Jati-jati Raksasa di Cagar Alam Donoloyo Wonogiri

Pohon Jati di Cagar Alam Donoloyo Wonogiri Pohon Jati Berlubang di Cagar Alam Donoloyo Wonogiri Cagar Alam Donoloyo di Desa Watusomo, Keca...

BERITA TERPOPULER