Keberadaan bendungan baru di Waduk Gajahmungkur ternyata memunculkan spot wisata baru yang menarik. Namanya Saringan, tepatnya di Desa Pondoksari, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri.
Saringan Land berada di ujung selatan Bendungan Baru Waduk Gajahmungkur. Lokasi ini berada di tepi perairan waduk. Dari tempat ini, kita bisa melihat matahari tenggelam atau sunset di seberang waduk, di balik Pegunungan Seribu.
Perahu nelayan yang berseliweran ikut mewarnai pemandangan alam Waduk Gajahmungkur. Para nelayan berangkat dan pulang membawa ikan hasil tangkapan mereka.
Rute menuju Saringan
Kita mulai rute dari Waonogiri Kota ke arah timur sekitar 5 kilometer sampai di perempatan Ngadirojo. Dari perempatan Ngadirojo belok kanan ke selatan sekitar 10 kilometer sampai di pertigaan Ngadiroyo, sebelum Kecamatan Nguntoronadi.
Dari pertigaan Ngadiroyo ke arah barat sekitar 3 kilometer sampai di Saringan Land. Di Saringan Land, kita akan menemui ujung Bendungan Baru Waduk Gajahmungkur. Beberapa orang menjadikannya sebagai spot favorit memancing ikan. "Iwake sak gendeng-gendeng luurrr" hahaha
Waduk Gajahmungkur Kabupaten Wonogiri sekarang mempunyai sebuah struktur bangunan baru. Yakni Closure Dike dan Overflow Dike. Kalau dilihat dari atas, bangunan itu mirip bendungan baru Waduk Gajahmungkur.
Closure Dike dibangun sepanjang 2,1 kilometer mulai dari spillway baru (Desa Pokoh Kidul, Kecamatan Wonogiri) sampai ke salah satu pulau di tengah waduk, kemudian memanjang hingga Saringan (Desa Plosorejo, Kecamatan Nguntoronadi).
Closure Dike merupakan bangunan pembendung sedimentasi di Waduk Gajahmungkur (WGM). Bendungan baru itu digunakan untuk membendung laju sedimentasi dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Keduang. Closure Dike dibangun di hulu Sungai Keduang karena sebagian besar sedimentasi WGM bersumber dari sungai tersebut.
Sedangkan Overflow Dike berguna untuk mengarahkan air yang melimpas dari Closure Dike. Dengan demikian, air Sungai Keduang akan masuk ke intake, sedangkan sedimentasinya tertahan di belakang Overflow Dike.
Dengan adanya Closure Dike, sedimentasi akan tertahan di sebelah timur waduk, sehingga tidak bisa langsung menumpuk di depan intake.
Sungai Keduang yang hulunya di lereng Gunung Lawu adalah penyumbang terbesar sedimentasi ke Waduk Gajahmungkur. Sungai Keduang mengalir dari samping timur bendungan dan bermuara tepat di dekat intake waduk.
Perlu diketahui, sedimentasi yang masuk ke Waduk Gajahmungkur mencapai 1-1,5 juta m3 per tahun. Sampai saat ini, total sedimentasi di Waduk Gajahmungkur ditaksir mencapai 6 juta m3. Upaya pengerukan sudah dilakukan dengan mengerahkan dredger atau kapal penyedot lumpur untuk membuang 1,5 juta m3 sedimentasi, tahun 2018 silam.
Pada postingan sebelumnya, saya telah menceritakan mengenai puncak Bukit Batu di Kampung Batu, Dusun Tlogo, Desa Kepuhsari, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri. Ternyata di kampung yang sama terdapat obyek wisata yang unik dan menarik, namanya Platarombo.
Seperti halnya puncak Bukit Batu, obyek wisata Platarombo juga berupa puncak bukit dengan dataran batu nan luas. Lebih luas dari pada puncak Bukit Batu. Bahkan, masyarakat setempat menanam padi di cekungan-cekungan atau sela-sela bebatuan. Dengan demikian, persawahan itu seakan-akan tumbuh di atas dataran bebatuan.
Dari Platarombo, kita dapat melihat puncak Bukit Batu dan bisa melihat pemandangan atau bentang alam yang lebih luas. Termasuk melihat sunrise atau mata hari terbit dan pemandangan Pegunungan Seribu. Hal itu karena Platarombo sedikit lebih tinggi dari pada puncak Bukit Batu.
Rute menuju Platarombo hampir sama dengan rute menuju Kampung Batu seperti yang telah saya tulis di postingan sebelumnya. Hal itu karena Platarombo bersebelahan dengan puncak Bukit Batu dan masuk dalam wilayah Kampung Batu.
Dari pertigaan dekat balai Desa Kepuhsari, kita mengambil jalur ke selatan sekitar dua kilometer. Setelah sampai di gapura Dusun Tlogo, kita melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Dari gapura tersebut, kita ambil jalan setapak di kiri jalan masuk ke arah timur sekitar 500 meter.
Di sepanjang perjalanan, kita akan disuguhi pemandangan perbukitan batu yang unik dan eksotik. Jalannya cukup landai dan tidak terlalu menanjak sehingga mudah dilalui. Jangan sungkan bertanya kepada warga ya.... biar tidak kesasar.
Sebuah fenomena alam spektakuler dapat dilihat di Dusun Tlogo, Desa Kepuhsari, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Salah satu puncak bukit di dusun itu berupa bebatuan luas dengan guratan-guratan unik. Bukit batu itu diperkirakan terbentuk sejak jutaan tahun yang lalu.
Di bawahnya terdapat sungai kecil yang mengalir di antara perbukitan batu. Dari puncak Bukit Batu, kita bisa melihat Waduk Gajahmungkur di kejauhan. Kalau camping di atas puncak bukit, terkadang kita akan menyaksikan matahari terbit dari balik Waduk Gajahmungkur.
Selain puncak Bukit Batu yang menjadi ikon Dusun Tlogo, banyak rumah di dusun tersebut berdiri di antara bebatuan besar. Karena keunikan dan panorama alam yang menarik itu, warga setempat menamainya Kampung Batu.
Untuk menuju Kampung Batu, kita bisa mengawali perjalanan dari pusat Wonogiri Kota ke arah selatan sekitar 20 kilometer sampai di pertigaan Cengkal, Wuryantoro. Dari pertigaan Cengkal, perjalanan dilanjutkan ke arah barat sekitar 2 kilometer sampai perempatan Tiken.
Dari perempatan tiken belok kiri (ke arah selatan) sekitar 3 kilometer sampai di balai Desa Kepuhsari. Di dekat balai desa tersebut ada pertigaan, belok kiri (ke arah selatan) sekitar 2 kilometer sampai ke Dusun Tlogo. Kendaraan dapat diparkirkan di rumah warga , setelah itu berjalan kaki ke puncak Bukit Batu. Waktu tempuh jalan kakinya hanya sekitar 5 menit. Tidak terlalu jauh kan...
Tapi biar tidak kesasar, jangan sungkan untuk bertanya kepada warga
Kabupaten Wonogiri berada di deretan Pegunungan Seribu (Gunung Sewu). Tidak heran, kabupaten tersebut dihiasi ratusan puncak bukit dan pegunungan yang indah dan menawan. Salah satunya adalah puncak Gunung Kelir di Dusun Tekil, Desa Sembukan, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri.
Puncak Gunung Kelir mempunyai keistimewaan tersendiri. Dari atas puncak tersebut, kita dapat melihat matahari terbit (sunrise) dan matahari terbenam (sunset) di lokasi yang sama.
Bentang alam Wonogiri tersuguh indah dan molek. Ketika cuaca cerah, kita dapat menyapu pandangan dari daerah timur Wonogiri, Purwantoro, Jatisrono dan sekitarnya. Kemudian melihat Ngadirojo, Wonogiri Kota dan Waduk Gajahmungkur, bahkan Gunung Lawu akan terlihat sangat jelas dari Gunung Kelir.
Untuk menuju ke Gunung Kelir, kita dapat menempuh jalur dari Wonogiri kota ke arah timur sekitar 20 kilometer. Sesampainya di perempatan Pasar Sidoharjo belok kanan (ke arah selatan) sekitar 5 kilometer. Sesampainya di balai Desa Sembukan masih ke selatan lagi sekitar 2 kilometer. (Dari balai desa ini kita sudah bisa melihat puncak Gunung Kelir dari kejauhan).
Dari balai Desa Sembukan, kita akan melintasi sebuah jembatan besar. Jalur akan menanjak, jadi pastikan kendaraan anda benar-benar dalam kondisi prima. Setelah sampai, kita memarkirkan kendaraan di sekitar rumah Pak Suyadi salah seorang warga setempat. Perjalanan lalu dilanjutkan dengan jalan kaki ke puncak Gunung Kelir.
Track menuju Gunung Kelir bisa ditempuh sekitar 20-30 menit berjalan kaki dengan santai. Jalan setapaknya menanjak tetapi tidak terlalu ekstrem. Kita akan melintasi tegalan warga, kemudian melewati hutan pinus dengan pemandangan yang elok. Ada beberapa warung yang didirikan warga sehingga kita dapat beristirahat sambil jajan-jajan santai di warung.
Sejarah Gunung Kelir
Masyarakat menamainya Gunung Kelir karena salah satu sisi lerengnya mirip kelir (layar) dalam pertunjukan wayang kulit. Terlebih kalau dilihat dari kejauhan, tebing itu sangat mirip kelir lengkap dengan gedebok dan wayangnya. Konon, banyak dalang yang bertapa atau menjalani tirakat di gunung tersebut. Mereka ingin memperoleh keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa melalui ritual yang dijalani di Gua Kelir. Lokasi Gua Kelir berada tepat di puncak Gunung Kelir.
Banyutowo berada di tepi pantai di Dusun Ngringin, Desa Paranggupito, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Lokasinya berjarak sekitar 65 kilometer dari pusat kota Kabupaten Wonogiri atau sekitar 7 kilometer dari kantor Kecamatan Paranggupito.
Rutenya :
Dari kota Wonogiri ke selatan sekitar 45 kilometer sampai perempatan Pracimantoro. Dari perempatan Pracimantoro belok ke timur (kiri) sekitar 5 kilometer sampai perempatan Giribelah. Dari perempatan Giribelah belok ke selatan (kanan) sekitar 8 kilometer sampai perempatan Paranggupito. Dari perempatan Paranggupito ke timur sekitar 7 kilometer sampai di Telaga Tangkil di Dusun Ngringin.
Setelah itu, kita jalan kaki dari Telaga Tangkil ke arah selatan sekitar satu kilometer. (Sebaiknya rajin bertanya ke warga setempat. Soalnya, jalannya berbelok-belok dan banyak persimpangan).
Pantai ini dinamakan Banyutowo. Dalam bahasa Jawa, banyu=air, towo=tawar, sehingga dari segi bahasa artinya air tawar. Dinamakan Banyutowo karena ada muara sungai bawah tanah yang keluar di bawah permukaan laut. Sehingga air yang keluar dari sungai bawah tanah itu agak tawar (towo).
Muara sungai bawah tanah tidak bisa dilihat secara langsung dari daratan atau dari atas permukaan laut. Tetapi, tanda-tandanya sangat jelas ketika musim hujan tiba. Saat musim hujan, air di sekitar Banyutowo akan berwarna cokelat keruh karena alirannya berasal dari sungai bawah tanah.
Pantai Nampu berada di Dusun Dringo, Desa Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Pantai ini berada di perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dengan Provinsi Jawa Timur. Sehingga sebagian wilayah pantainya masuk wilayah Jateng, sebagian lagi masuk wilayah Jatim.
Dari pusat kota Wonogiri, pantai ini berjarak sekitar 70 kilometer ke arah selatan.
Rutenya : Dari Wonogiri kota ke selatan sekitar 45 kilometer sampai perempatan Pracimantoro. Dari Pracimantoro belok kiri (ke timur) sekitar 5 kilometer sampai perempatan Giribelah. Dari Giribelah belok kanan (ke selatan) sekitar 8 kilometer sampai perempatan Paranggupito. Dari perempatan Paranggupito ke timur sekitar 12 kilometer sampai ke Pantai Nampu.
Mobil dan sepeda motor bisa masuk sampai area parkir Pantai Nampu. Tetapi, sayangnya bus-bus besar tidak muat kalau lewat jalur Paranggupito-Pantai Nampu.
Pantai Nampu merupakan salah satu pantai yang dihiasi pasir putih terluas di Kabupaten Wonogiri, dengan panjang garis pantai lebih dari setengah kilometer. Sebelah barat pantai terdapat tebing karang yang tinggi dan nyaris tegak lurus.
Terkadang, kita akan melihat nelayan tradisional yang menjaring ikan di pantai tersebut. Berikut ini videonya : Menjaring Ikan di Pantai Nampu